Sejarah Singkat

Awalnya, berpijak pada paradigma bahwa kondisi masyarakat Wonogiri yang masih terbelakang dan berpendidikan rendah akan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat pada masa yang akan datang, maka para tokoh masyarakat yang  dipelopori oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Wonogiri – Bapak Broto Pranoto – menyatukan hasrat mendirikan sebuah Sekolah Menengah Tingkat Atas.

Hasilnya, pemerintah menyetujui berdirinya SMA Negeri 1 Wonogiri dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 187/SK/B/III tanggal 31 Juli 1962, bahwa terhitung mulai tanggat 1 Agustus 1962 dibuka Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas Negeri Gaya Baru, yang ditandatangani oleh a.n. Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Republik Indonesia – Bapak Prof. Dr. Prijono – pada tanggal 7 Agustus 1962 bertempat di Pendopo Kabupaten Wonogiri.

Pada waktu berdiri, gedung sekolah menggunakan bekas rumah sakit zaman Belanda yang terletak di kampung Sanggrahan, di atas sebidang tanah seluas 6.870 m2.

Awal berdiri, SMA Negeri 1 Wonogiri menerima siswa sebanyak 4 kelas. Gurunya pun kurang, sehingga mendatangkan dari Sekolah Pendidikan Guru Negeri Wonogiri. Murid terus bertambah dari tahun ke tahun. Kemudian pemerintah menambah guru dan memberi tambahan bangunan baru dalam bentuk ruang kelas, laboratorium, dan perpustakaan.

Bergulirnya era otonomi atas dasar UU Nomor 22 tahun 1999 dan UU Nomor 25 tahun 1999 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 membawa nuansa baru dalam sistem pengelolaan pendidikan, yaitu berkembangnya pemikiran untuk melaksanakan desentralisasi pengelolaan pendidikan sejalan dengan berlakunya otonomi daerah.

Sehubungan dengan hal tersebut, juga terdorong oleh suasana perubahan politik kenegaraan, masyarakat merasa yakin bahwa salah satu upaya penting yang harus dilakukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan pemberdayaan sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS ini pada intinya memberikan kewenangan kepada sekolah untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan.

Pada tahun pelajaran 2003/2004 dapat dibangun lima ruang kelas baru. Pada tahun pelajaran 2004/2005, sampai dengan bulan Desember 2004 berhasil dibangun empat ruang kelas.

Sejak tahun 2006 sampai 2012 telah dibangun tiga gedung berlantai tiga yaitu sembilan ruang kelas, 1 ruang pendidikan agama Nasrani, perpustakaan, Pusat Sumber Belajar, tiga laboratorium IPA, dua laboratorium bahasa, dan ruang unjuk seni budaya.

Pada tahun 2012, dilaksanakan juga renovasi ruang UKS, kanopi, bangunan penghubung gedung A dan gedung B. Halaman sekolah dilengkapi dengan panggung, lapangan olahraga,dan lapangan upacara. Pembangunan jembatan penyeberangan baru selesai pada tahun 2013 ini, yang selanjutnya nanti akan diresmikan oleh Bupati Wonogiri, Bapak Danar Rahmanto.

Dengan kerja keras semua warga sekolah, komite sekolah, dan pemerintah Kabupaten Wonogiri, sampai dengan Juni 2012 sudah dapat membangun 31 ruang kelas baru. Obsesi warga sekolah dan masyarakat untuk menjadikan SMA Negeri 1 Wonogiri bernuansa kampus Perguruan Tinggi Favorit, kini telah menjadi kenyataan.

Sampai dengan usia 51 tahun ini, SMA Negeri 1 Wonogiri telah dipimpin 11 kepala sekolah, yaitu (1) Bp. Sumadi, B.A., (2) Bp. Setiyarto Hartopranoto, (3) Bp. Soepono, B.A., (4) Bp. Drs. Kartono tahun, (5) Bp. Drs. Djambari Sutjipto, (6) Bp. Ibnoe Soewarso, B.A., (7) Bp. Drs. Suparto, (8) Bp. Soebekti, B.A., (9) Bp. Drs. Sumadi, M.M., (10) Bp. Drs. Suhardo, M.Pd., dan (11) Bp. Drs. Mulyadi, M.T.

SMA Negeri 1 Wonogiri terus berbenah diri, mengevaluasi segala kekurangan baik fisik maupun nonfisik, mengemban amanah untuk menghasilkan output siswa berkualitas nasional maupun internasional. Sehingga SMA Negeri 1 Wonogiri menjadi sekolah yang bisa dipercaya, bisa dibanggakan, dan bisa menjadi harapan utama tumpuan pendidikan generasi baru Wonogiri.